Aku uda pernah bilang sebelumnya, “Pahami keadaan dan jangan cepat mengambil keputusan, karena hal yang demikian akan menghambat kedewasaanmu dalam berpikir.” Jargon baru yang pernah aku cerna dan telah terbukti kevalidannya. Kalian pasti sejutu dengan jargon di atas. Jika ada yang tidak setuju, betumbok pun jadi!!!! Tapi, kayaknya pada setuju semua, karena enggan berurusan dengan aku. Hahahg. Glek...*cekukan.^_~
Kita bisa memahami psikologi perasaan seseorang dengan melakukan satu riset mini. Hal ini penting jika kamu mau mengetahui bagaimana sich perasaan orang yang kamu demeni terhadapmu. Ada dua faktor yang mendasarinya. Karena buku psikologi perasaan belum terbit, jadi untuk kamu-kamu aku beri 2 adja ya. Ntar kebanyakan muntah loh.
- yang pertama adalah pandangan mata ketika sedang berbicara kepadamu. Liat seberapa lama dan sering dia membuka kemudian menutup kembali kelopak matanya saat berbicara dengan anda. Jika lebih sedikit, artinya dia sedang memahami dan nyambung berbicara denganmu. Hal ini merupakan 1 pertanda lampu hijau, jika dikonotasikan ke dalam tahap-tahap dalam menjatuhkan wanita kedalam jurang cinta, aku beri ini level 1. Namun, jika sebaliknya dia sangat sering menutup dan membuka kelopak matanya. Kamu tak perlu ragu untuk menyatakan,” Kamu sedang sakit mata ya?” kwakwakwak.
- Yang kedua adalah senyuman yang terkemas elegan ketika bertatapan. Ada 2 kemungkinan juga jika lawan bicaramu tersenyum ketika sedang berdialog. Kemungkinan pertama dia senang berbicara denganmu dan yang kedua dia emang lagi terkena skizoprenia. Mau tau artinya apa istilah tersebut, cari donk di KBBI. Males banget sich.
Masih mau menjadi pelaku kejahatan intelektual?????
Mungkin diri kita bergidik mendengar itu. Makanya, jika mau membuat satu teori, harus didasari dengan pembuktian melalui riset terlebih dahulu. Eleh-eleh, omongan uda kayak mahasiswa program doktor aja. Terlalu tinggi dan susah dicerna oleh orang-orang yang memiliki minim vocab ilmiah. Lebai ah....
Sebenarnya tulisanku ini cuma bermaksud mengungkapkan permintaan perasaan. Sebagai pembuktian jika aku belum habis. Belum mau berhenti untuk menulis. Karena jati diri telah terbangun, namun dengan fondasi yang kurang kokoh. Sehingga kapan saja dapat roboh. Oleh sebab itu, aku mau membangun kembali dengan fondasi yang lebih baja lagi. Apakah kalian sebagai orang yang lebih berpengalaman dan memotivasi serta mengantarku ke jurang ini dahulu masih enggan untuk kembali menyuntikkan resep semangat menulis
aku perlu jawaban darimu sekarang!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

0 Komentar
Berkomentarlah yang sopan dan bijak..