AKu sempat kecewa dengan diriku. kenapa?
uda disetel mau bangun dini hari untuk nonton final champions antara Bayern & Chelsea malah ketiduran hingga subuh.
wich....kesalnya.
Tapi syukurnya masih dapat melihat adu penalty. ternyata skor sama kuat
1-1. kudengarkan baik-baik komentator yang membincangkan tragedi dalam
120 menit pertandingan. Memang benar, Bayern unggul dalam hal serangan
dan peluang. buktinya mereka tancap gas saat peluit babak pertama
dibunyikan. bayern sempat di atas angin saat terlebih dahulu menjebol
gawang Petr Cech tepatnya di menit 83', pelakonnya adalah Mueller.
Dengan bebas penyerang berkeebangsaan Jerman ini menyundul bola hasil
umpan dari rekannya tanpa ampun. skor 1 poin utuk Bayern.
pertandingan
sempat kembali memanas saat Chelsea membungkam suporter Bayern dengan
aksi predator mereka yaitu Didier Drogba. penyerang berkebangsaan Pantai
gading ini memastikan Chelsea mendapatkan peruntungan di babak tambahan
waktu.
di babak extra time, bayern kembali menunjukkan
tajinya sebagai tim Bavarians yang terkenal garang, lewat aksi Olic di
kotak terlarang, Drogba menjatuhkannya dan wasit meniup peluit pertanda
terjadi pelanggaran. Robben sebagai algojo mengambil tendangan penalty.
namun sangat disanyangkan, Cech mampu menahan dan mengankap bola sepakan
Robben.
Karena tak ada gol tambahan di babak perpanjangan
waktu, adu penalti pun harus dilakukan. Di sinilah dewi fortuna lebih
menaungi Chelsea. David Luiz, Frank Lampard, Ashley Cole, dan Drogba
sukses memperdayai Neuer. Hanya Juan Mata yang tak bisa menjalankan
tugasnya dengan baik.
Sementara itu, dari lima penendang
Bayern, hanya Philipp Lahm, Mario Gomez, dan Neuer yang sukses. Ivica
Olic dan Bastian Schweinsteiger gagal. Skor akhir 4:3 untuk Chelsea.
Ini
adalah gelar Liga Champions pertama sepanjang sejarah Chelsea.
Sebelumnya, pencapaian terbaik mereka adalah final tahun 2008 saat
dikalahkan rekan senegaranya Manchester United lewat adu penalty.
Bagi Bayern, kekalahan ini membuat mereka tetap mengumpulkan empat gelar, yakni pada edisi 1974, 1975, 1976, dan 2001.
"Kami
punya kumpulan pemain yang memiliki hati besar, semangat, motivasi,
dan hasrat. Hanya dengan cara itulah kami bisa meraih trofi ini," ujar
Manajer (Caretaker) Chelsea Roberto Di Matteo di Sportinglife.
Dengan
kualitas tersebut, Di Matteo pun tidak terlalu risau ketika Bayern
mencetak gol di menit-menit akhir. Ia yakin dengan semangat timnya dan
keyakinan itu pun terbukti benar.
"Bayern adalah sebuah
tim bagus dan ketika mereka bikin gol tak banyak waktu tersisa.
Pertandingan seperti ini membutuhkan semangat dan pemain yang bisa
unjuk gigi."
"Kami punya banyak pemain seperti itu, yang
sudah melakukannya sebelum ini dan mereka melakukannya lagi sekarang,"
simpul Di Matteo.
Bravo Chelsea.

0 Komentar
Berkomentarlah yang sopan dan bijak..