Beruntung karena Jujur #8 Serial Boni


Google
Teeeeeeeeeeen, ten, ten, ten... suara klakson sepeda motor bersahutan di persimpangan Jalan Latsitarda. Pagi itu kebetulan hari Senin dan biasanya titik jalan ini menjadi sasaran empuk dari kemacetan. Maklum saja, selain jalan ini banyak diisi oleh kantor-kantor pemerintahan, juga banyak sekolah yang berdiri di jalan ini. Sehingga ketika di pagi hari kemacetan tak dapat terelakkan. Apalagi simpang ini belum dibubuhi traffic light. Wajar saja.



Boni dan rekannya tak luput dari kemacetan tersebut. Dengan mengendarai sepeda motor rekannya, Boni sebagai supirnya. Jam sudah menunjukkan pukul 7.25 WIB. Itu menandakan bel sekolah akan berbunyi 5 menit lagi. Memang jarak sekolah sudah dekat, namun kalau bertahan dengan kemacetan bakalan telat. Akhirnya Boni memiliki ide, ide memutar balik sepeda motornya untuk melewati jalan potong yang sebenarnya cukup jauh. Namun, tak dianggap sebagai sebuah jalan. Karena melewati rumah-rumah warga. Tak ada jalan lain pikir Boni.

Dengan kelihaian Boni mengendarai sepeda motor beserta teriakan siempu rumah yang halamannya mereka lewati, akhirnya tibalah mereka di depan gerbang yang sudah terkuci rapat. Sial. Padahal jam masih tepat pukul 7.30 WIB. Tapi mengapa sudah terkuci rapat. Dari luar gerbang mereka melihat teman-temannya sudah berbaris untuk melaksanakan upacara bendera. Dengan rasa menyesal mereka hanya memandangi ke arah pelataran sambi memikirkan hukuman mengutip sampah di setiap sudut sekolah yang sangat luas ini. Oh tidak. 

Tak terasa waktu 45 menit sudah berlalu. Pelaksanaan upacara bendera sudah selesai. Kini giliran mereka yang telat untuk diproses oleh petugas piket yang berisi guru-guru kejam. Hanya ada Boni dan rekannya saja yang telat. Ini fenomena langka yang jarang terjadi. Seorang Boni yang dikenal pintar di kelas dan memiiki suara merdu ketika melantunkan ayat suci al-Qur’an harus menerima pil pahit untuk dihukum oleh guru piket. 
  
Dengan nada penyesalan Boni menjawab pertanyaan guru piket kenapa bisa telat,
“Saya dan teman saya terkena macet di simpang Latsitarda tadi Pak,” jawab Boni
“Bapak tadi pun lewat situ juga, tapi kok tidak telat,” sambung Pak Piket.
“Iya Pak, tadi berangkat dari rumah agak lama. Maaf pak lain kali tidak saya ulangi saya akan berangkat lebh awal lagi. Saya janji.” Jawab Boni dengan penuh rasa penyesalan.

Mendengar pengakuan dari hati sanubari tersebut, akhirnya Pak Guru piket hatinya luntur dan malah tak memberikan hukuman apa-apa kepada Boni dan temannya. Padahal sudah membayangkan, antara mengutip sampah di setiap sudut sekolah atau membersihkan WC. Ya salam.

Dengan gembira Boni dan temannya masuk kelas. Huft. Hari ini terlalu beruntung buat Boni. Telat ke sekolah tanpa harus mencicipi hukuman seperti biasa. Ini berkat kejujuran yang terucap dari mulut Boni sehingga muncullah kemurahan hati dari sang guru. Semoga tidak telat lagi ya Bon...:) 

Beruntung karena Jujur #8 Serial Boni Beruntung karena Jujur #8 Serial Boni Reviewed by Bambang Edi Susilo on Tuesday, August 04, 2015 Rating: 5

Post AD

home ads