Takdir Itu (Masih) Memelukmu


foto:google

Malam semakin larut. Gelap semakin sumringah menemani sang rembulan. Ayam-ayam mulai mengambil ancang untuk berkokok menyambut sang mentari. Aku masih saja mencumbu udara dingin malam ditemani permadani kesayanganku. Akankah pagi masih kutemui? Atau pagi telah bosan kukotori dengan dosa-dosa yang harusnya bisa kuhindari.

Aku betah berlama-lama berimajinasi menelusuri mimpiku. Mungkin pagi akan terlewati karena penelusuran belum terhenti. Aku harap ada alarm bernafas yang menyadarkan penelusuranku. Namun aku tak begitu yakin apakah ia masih mengingatku atau tidak. Karena pertemuanku dengannya saja sudah berlalu beberapa tahun silam. Bahkan aku tak dianggapnya sebagai orang yang pernah berbagi cerita setiap hari, saat ini. Itu dahulu, setelah keadaan memisahkan kisah yang tidak sempurna ini.


Aku yakin guratan wajahku masih terekam jelas di memori otakmu. Hanya saja, kau berusaha menghapusnya. Apakah aku boleh membantu perlahan mencopoti kepingan sketsa wajah itu. Aku dengan senang hati akan membantu jika itu bagian dari kebahagaianmu. Karena tidak ada kebaikan yang lebih berharga yang bisa kuberikan untukmu saat ini selain membuat kau tersenyum menyambut cerahnya Minggu pagi, esok hari.


Aku sadar, ini bagian dari kesalahan yang entah bagaimana jadinya seperti ini. Aku yang merencanakan segalanya atau ada campur tangan tuhan di dalamnya. Karena yang kepelajari, pada hakikatnya segala tindakan yang kita lakukan tak lain bagian dari kuasaNya. Aku semakin bingung. Kebingunganku semakin membulatkan keyakinan. Ada yang kurang tepat dengan rencanaku selama ini. Aku tak melibatkan-Nya ketika menyusun strategi ke depan untuk merajut kasih, meniti dayung harapan.


Setidaknya kau telah belajar arti kedewasaan. Menerima sakitnya sebuah kebohongan. Mendapati kejamnya sebuah pendustaan. Walaupun sebenarnya aku anggap itu pelajaran. Karena tidak ada yang terjadi di dunia ini tak lepas dari hikmah yang terpendam. Tinggal bagaimana kau mampu menjemputnya sebagai butiran kebaikan. Yang bisa dijadikan pegangan untuk meraih masa depan yang lebih baik lagi, kan.


Maafkan.


Takdir Itu (Masih) Memelukmu Takdir Itu (Masih) Memelukmu Reviewed by Bambang Edi Susilo on Sunday, September 11, 2016 Rating: 5

No comments

Post AD

home ads