Politik dan Sepakbola Sebagai Kendaraannya

Isu yang paling hangat diperdebatkan tahun ini adalah Pilkada serentak dan Piala Dunia. Seakan keduanya memiliki tempat tersendiri di hati rakyat Indonesia. Lihat saja, betapa kehadirannya masih akan berlangsung beberapa bulan lagi, namun gempitanya sudah dirasakan sejak tahun 2017 lalu.
Jika kita memerhatikan, politik dan sepakbola adalah nafasnya dari perkumpulan rakyat Indonesia. 

foto: google
Misalnya, jika saat nobar (nonton bareng) tim sepakbola kesayangan sedang berlaga. Kita akan melihat pemadangan yang sangat epik. Bagaimana tidak, dengan tanpa bayaran sepeserpun. Mereka datang berbondong bondong, dari lokasi yang bisa dibilang jauh, kemudian membayar tiket masuk dan banyak pengeluaran materi lainnya.

Namun dengan senang hati, mereka membela tim kesayangannya memenangi pertandingan. Tak jauh berbeda dengan perhelatan demokrasi seperti pilkada. Tak berapa lama lagi beberapa wilayah di Indoneisa yag tidak  bisa dikatakan sedikit dari Provinsi, kabupaten/kota akan melakukan pemilihan pemimpin-pemimpin baru.

Sejak awal diusungnya masing-masing calon dengan koalisi berbagai partai pada pilkada tahun ini, sebenarnya ini menjadi rintisan awal untuk menyongsong pilpres 2019. Karena persiapan persiapan partai politik jelang pilpres geliatnya akan menjadi loncatan. Dan pilkada menjadi ajang ujicoba setiap partai dalam menyukseskan pilpres nantinya. Dan ini sudah terlihat.

Sehingga sepakbola yang memiliki jatidiri olahraga akan menjadi ajang hiburan berbau politik nantinya. Bakal ada nobar-nobar dengan bumbu bumbu politik di dalamnya. Apakah dalam nobar tersebut nantinya didanai salah satu parpol atau salah satu kandidat capres yang ingin melambungkan namanya di pilpres ke depan.
infografis: Bambang Edi Susilo

Sebagai rakyat yang jeli, tampaknya transaksi politik seperti ini sudah tercium sejak awal. Betapa tidak, sejatinya sikap parpol yang pragmatis akan dapat diketahui melalui agenda agenda politik yang dapat dengan mudah diakses masyarakat. Apalagii, masing masing kader partai mulai rajin bersuara di media sosial terkait agenda parpolnya masing masing.

Jadi gak ada pilihan lain bagi kaum millennial untuk menutup mata terkait perhelatan demokrasi kali ini. Karena kita tahu, sebagian besar fanatisme sepakbola digawangi oleh kaum muda. Kaum muda harusnya bias memilih dan memfilter agenda terselubung parpol yang diyakini terpecah dengan adanya Piala Dunia nantinya. Itu sebagai contoh saja.

Uraian di atas adalah sedikit keresahan penulis menyikapi geliat parpol yang mulai menyentuk sendi sendi aktivitas anak muda. Karena parpol cerdas, anak muda yang kerap disebut kamu millennial saat ini produktif mendulang suara nantinya.

Dengan kretaivitas yang dimiliki kaum millennial, dapat berdampak posiitif terkait pamor dan elektabilitas partai yang bias jadi dengan keterhubungan sepakbola bias menyatukan asa dan harapan partai.

Semoga sepakbola tidak disalahgunakan sebagai kendaraan politik bagi parpol ya.


Politik dan Sepakbola Sebagai Kendaraannya Politik dan Sepakbola Sebagai Kendaraannya Reviewed by Bambang Edi Susilo on Saturday, March 17, 2018 Rating: 5

No comments

Post AD

home ads