Salah Alamat Lagi Pesanmu, Dek!



google

Beberapa tahun belakangan ada satu kejadian yang cukup aneh kurasakan ketika saat bersamanya. Ia kerap mengirim pesan padaku yang sebenarnya bukan aku tujuannya. Namun pesan itu terkirim untuk orang yang hendak dikabari akan sesuatu. Contohnya, ia izin pulang telat kepada kakaknya di rumah, namun pesan tersebut malah terkirim padaku. Hahaha, aku hanya senyum membaca pesan yang masuk tersebut.

Sesekali aku iseng dan membalas dengan kata “Ya”. Itu sudah menyadarkannya untuk mengirim kembali pesan sama ke tujuan yang sebenarnya. Kejadian ini tak terhitung sudah terjadi berulang kali. Alasannya,”Mungkin ingatnya abang seorang. Makanya begini,”timpalnya.

Wajar saja, bagaimana tidak keseleo tuh pikiran. Betapapun jari-jari yang mengetik pesan tetapi hati dan pikiran fokusnya kepada objek yang saat ini sedang bersama. Iya, karena pada saat pesan tersebut terkirim keadaan aku dan dia sedang bercengkerama. Sehingga begitulah yang terjadi. Hingga tak sadar, pesan malah tertuju salah alamat.

Jika kita berbicara melalui disiplin ilmu psikologi, hal ini disebut dengan sugesti pikiran. Yah, maksudnya tindakan dan kelakuan yang terjadi dipengaruhi oleh keadaan hati dan pikiran yang sedang berbunga-bunga. Biasanya hal-hal aneh akan terjadi, bahkan di luar nalar.

Namun yang parahnya jika pesan tersebut malah terkirim ke orangtua. Kan berabe guys. Misalnya kita ngucapin I Love U Too  yang seharusnya kepada si doi. Bisa kebayang gak tuh kira-kira. Mungkin orangtua pada senyum-senyum bacanya. Bisa jadi salah persepsi, dikira si anak emang bener pengen ngucapin kalimat itu ke orangtua. Kan bisa buat orangtua terharu. Hehe.

Tapi jika tanggapan orangtua malah negatif, bisa jadi langsung dibalas,” Oh gitu nak, sudah pandai bilang-bilang kalimat itu ke orang lain. Sama ornagtua sendiri kagak pernah,” gubrak. Ini lebih kacau lagi.

Kalau udah gitu ya buru-buru telpon orangtua untuk klarifikasi. Dan orangtua bisa maklum kok. Dan terpaksa bohong (ngeles) kalau pesan tersebut sebenarnya benar-benar memang untuk dikirim ke orangtua. Hahaha. Namun sebenarnya orangtua tak menginginkan itu. Setiap bulan setidaknya memberi kabar pada orangtua bagi yang perantauan saja sudah membuat mereka bahagia. Yah, orangtua memang simpel. Gak kayak kamu, iya kamu. Kamu yang mana pun gak tau.

Terkadang dalam benak sendiri kita berpikir. Heran juga malah. Kenapa? Karena lebih mengorbankan sesuatu kepada orang yang baru beberapa tahun atau bahkan beberapa bulan kita kenal dibanding orangtua sendiri. Ini fakta. Dan sudah berulang kali terjadi. Bahkan pada diriku sendiri. Sekarang baru tersadar. Yah, begitulah yang terjadi.

Kita akan mengetahui sesuatu sangat berharga ketika sesuatu yang lain telah pergi. Dan satu yang pasti, orangtua takkan pernah main-main dalam segala hal. Termasuk main-main untuk menggadaikan kasih sayangnya. Tidak dengan kamu, iya kamu. Yah, lagi-lagi baper. Gak juga sih, ini hanya sebatas mengingatka betapapun besarnya sayangmu kepada seseorang, itu ada kadaluarsanya.

Memang saat ini kalian tak percaya karena sedang dilanda virus hati paling menakutkan dari penyakit yang pernah ada di muka bumi ini. Namun, suatu saat itu berpeluang terjadi. Cinta dunia ada tenggat expired-nya. Gak percaya. Tunggu aja.

Makanya jika tak mau kadaluarsa, sandarkan cinta pada Zat Yang Maha Cinta. Insha Allah cinta itu akan mengalir deras seperti air di surga yang takkan berhenti mengalir. Cinta itu juga akan bersinar layaknya kasih sayang-Nya yang selalu menyelimuti setiap kehidupan manusia. Cinta itu juga akan seperti rembulan yang selalu setia menemani malam.

Yah, si Bembeng. Ujung-ujungnya ceramah. Pasti kebanyakan di setiap tulisannya ada kata-kata hikmah yang tersurat. Iya emang benar. Begitulah adanya. Terkadang tulisan lebih memberi efek ke dalam sanubari.

Baiklah, akhirnya melalui tulisan ini aku mohon maaf kepada siapapun termasuk oknum yang menjadi pemeran pembantu dalam tulisan ini. Salam ukhuwah dan pasti bahagia.

#Menulisituibadah
#Pastibahagia




Salah Alamat Lagi Pesanmu, Dek! Salah Alamat Lagi Pesanmu, Dek! Reviewed by Bambang Edi Susilo on Friday, March 18, 2016 Rating: 5

Post AD

home ads