Tunggangan Lama

Si Geleng
Ganjil seminggu aku bersama Si Geleng. Awalnya aku curiga dan tak ingin menerima keinginan Bapakku untuk menukar Si Cibeng dengan Si Geleng. Karena selama 2 bulan terakhir aku sudah nyaman berada di punggung Cibeng. Apa boleh buat, keinginan Bapak memang tak bisa dielakkan. Kalau tak mengindahkan ucapannya, siap-siap mendapat hal yang lebih buruk lagi. Tak dikasi sama sekali membawa SI Cibeng bulan depan. Pasalnya aku ragu dengan tragedi tahun lalu yang membuatku kesulitan mau kemana-mana. Belum berumur 24 jam Si Geleng berada di Medan, dia sudah merajuk dan tak digunakan sama sekali. Huft, sebelnya.

Dengan sedikit bujukan bapakku ketika lewat dering suara, aku akhirnya meng-yeskan akan kembali menggunakan Gelang untuk beberapa minggu. Tentunya dengan beberapa syarat yang aku tawarkan ke Bapakku. Syarat pertama, dijamin tidak mogok lagi dan yang kedua dipasang lampu kanan kiri. Setelah persyaratan oke, tepat 8 Maret aku bertukar tunggangan di persimpangan Jalan Tebing Tinggi da Siantar. Dengan berat hati aku melepasnya. Walaupun akhir-akhir ini aku tak menjaganya dengan baik. Salah satunya sering membiarkannya terkena debu dan becek saat digunakan. Terkadang aku sedih melihatnya bernoda cipratan tanah basah dan tumpukan debu di body-nya.

Sebenarnya dari hati terdalam, aku suka menunggangi Si Geleng. Walaupun bodynya kalah sensual dibanding Cibeng, setidaknya dia sudah cukup memuaskanku tiap hari. Jangan salahkan lajunya yang sudah tidak bisa menginjak 65 km/jam, maklum saja umur kami berkisar  4 tahun lebih tua aku. Dia lahir tahun 1996 kala proses krisis moneter mulai diperkenalkan. Namun sekali lagi aku senang, setidaknya Si Geleng masih setia mengantarkanku tiap pukul 07.00 WIB ke kantor. Bayangkan jika gak ada, bakal angkot sebagai angkutan ter-danger dalam sejarah hidupku mau tak mau harus ditumpangi.
Si Cibeng

Selain itu, aku sedikit lega dengan kinerja konsumsi bahan bakar yang terjadi pada Geleng, dia lebih irit ketimbang Cibeng. Dengan Geleng aku bisa tempuh jarak 55 km perliter bensin, sedangkan Cibeng hanya 46 km perliternya. Lumayanlah beda 9 km sudah bisa digunakan untuk jumpai sang doi di Tembung. Hehehe. Ditambah ke Ittihad malam minggunya. Hehehe. Jadi adil deh. Jumpai doi dan muallim. Piisss

Akhirnya aku harus rela dan kuat-kuat gengsi untuk menunggangi Si Geleng kemanapun berada. Mau ke kantor ayok, mau jalan ayok, mau ngaji ayok. Kemana lagi??? Oh iya, jangan lupa isi bensin si Geleng ya kalo minjam, ntar menyorong kalo gak diisi. Hahahaha. Intinya tetap bersyukur dengan titipan sang Illahi.

Geleng: GL Pro Bembeng
Cibeng: CBR Bembeng


Tunggangan Lama Tunggangan Lama Reviewed by Bambang Edi Susilo on Saturday, March 14, 2015 Rating: 5

Post AD

home ads