Ustadz Kita (5)

Cerita 5
Dari judulnya, kurasa rekan-rekan sudah tau siapa orangnya. Secara kemapanan ilmu ukhrawi, kita tak perlu ragu. Secara kemampuan dalam menyampaikan dakwah dengan pendekatan yang menyentuh dan mengena’ di hati, kita juga telah sama sama merasakannya.

Memang benar, jika kita ingin menjadi orang yang didengar, kita terlebih dahulu harus banyak mendengar. Mungkin inilah satu kegiatan yang kerap ia lakukan di Negeri Piramida kala menimba ilmu agama. 

Tak hanya itu, dengan sistem pendidikan di Al-Azhar yang masih menggunakan metode tradisional, mengharuskan setiap mahasantri mesti menguasai banyak kitab-kitab yang men jadi media pembelajaran utamanya.

Tak hanya di universitas yang biasa di ruang-ruang kelas sebagai wadah belajar, namun masjid juga menjadi tempat utama belajar di kampus yang banyak melahirkan ilmuwan-ilmuwan besar seluruh dunia.

Dan uniknya, di kampus yang berlokasi tempat Fir’aun hidup ini, sistem pembelajarannya tidak mengunakan absensi. Jadi bagi kamu yang berkuliah di sini memang harus benar-benar punya kemauan dan motivasi yang kuat. Kalau gak, ya bakalan gak kelar-kelar tuh.
Baik, kita ceritakan tentang ustadz kita lagi.

Oiya, beberapa waktu lalu  beliau baru saja melepas masa lajang. Mungkin gak pake pesta lajanglah ya ustadz kemarin itu. hahaha. Harapannya, semoga keluarga baru yang dibangun menjadi bahtera rumah tangga yang bahagia di dunia dan akhirat. Aamiin.

Selanjutnya bingung aku mau cerita tentang apa lagi. Karena takut dosa Nghibahin ustadz banyak banyak. haha. Eh, dosa gak sih ngomongin ustadz? Jawab dulu gaes?

Yah, biar gak dosa, ngomonginnya yang baik baik aja lah yaa. Semoga ustadz Syaiful Amri terus menjadi dai sekaligus guru yang memancarkan sinar Islam di manapun berada. Ibarat lampu, keberadaanya mampu menerangi lingkungan sekitar. Tak hanya itu, cahanyanya juga dapat memudahkan kita dalam menjalankan aktivitas, tentunya dengan cahaya ilmu agama dan pengetahuan.

Semoga mimpi dan harapan ustadz segera terkabul, ntah mau cepat-cepat mengorbitkan generasi selanjutnya ya kan. Karena sesuatu yang baik harus di gaskeun secepatnya. Itu kata Bang Faisalnya, aku mengutip saja. Haha. Manatau seminggu nikah, langsung jadi Om-Om kita 9 bulan ke depan di A30 ini. eh.

Oiya, lomba-lomba lah sama Bang Fadhiel dan Ustadz Faudzul. Karena berlomba-lomba dalam kebaikan juga harus digencarkan. Maaf ustadz kalau kelancangan, hihihi.

Aku rasa cukup sekian dulu, mudah-mudahan Ustadz Amri berkenan turut mendoakan kami yang masih sendiri, agar segera berdua. Karena sendiri itu berat, lama kelamaan akhirnya juga gakkan kuat. Karena sepatu aja sepasang, masak kamu sendiri mulu? Eh...

Ustadz Kita (5) Ustadz Kita (5) Reviewed by Bembengers on Rabu, Januari 15, 2020 Rating: 5

Tidak ada komentar

Post AD

home ads